Cinta tak pernah memintamu tinggal

November 13th, 2007 by periasaksara

Aku selalu membenci bandara.
Bandara selalu mengingatkanku kepada ucapan perpisahan yang dingin. Punggung yang menjauh pergi, dan kepala yang tak pernah lagi menengok ke belakang.

Bandara mengingatkanku pada malam yang diguyur hujan. Menatap tempias air yang menimpa kaca jendela. Embunnya membentuk bulir vertikal. Seperti sengkarut yang menyilang di hati karena semuanya harus selesai. Padahal, aku belum menginginkannya.

Aku. Dia. Kami. Berpisah karena waktu kami telah berakhir. Bandara menjadi tempat yang terasa beku. Udara musim dingin, air hujan yang mengguyur deras, dan bangku bandara yang terbuat dari besi adalah bisu yang membuat gigil ketika tersentuh.

Aku tak meradang. Menatap kosong ke landasan pacu bandara yang menjadi pemandangan dari balik kaca di ruang tunggu.  Membiarkan sekian kenangan menyeruak dari bilik otak dan menjelma jadi potongan gambar dalam benak. Jendela itu mengingatkanku pada jendela lain di sepanjang pertokoan sebuah kota. Kami berdua, dengan telunjuk saling terkait berdiri di depan sebuah bridal house. Kaca display memamerkan sepasang patung manekin lelaki-perempuan dalam sebuah busana pernikahan. Gaun broken white nan anggun dan tuxedo yang elegan. 

‘Pernah membayangkan memakainya?’ Aku menggeleng sambil tetap menatap jendela  display. ‘Aku membayangkannya memakai pakaian itu dengan kamu di sampingku.’ Suara itu membuatku menoleh. Coba menemukan sekelumit kecil ekspresi di wajahnya. Bibir merahnya melebar, membentuk garis senyum. Wajah itu mencerahkan. Namun, hujan tak kenal waktu. Perlahan ia turun mengguyur kami. Tergesa, dengan tetap membiarkan telunjuk saling berkait, kami berlari ke pelataran toko yang terlindung kanopi.

Hari itu, hujan meluruhkan semua.
Tubuh kami berhimpit. Saling memberi ruang untuk hangat. Mata kami tak saling melihat, namun telunjuk tetap saling terkait. Air hujan membentuk rintik di permukaan air yang menggenang. Dan, pertanyaannya membuat aku terkenang.
‘Tidakkah cinta membuatmu tinggal?’
‘Apakah cinta meminta kita untuk tinggal?’ Aku menjawab tanpa menoleh. Percikan air hujan membasahi dua pasang sepatu kami yang kini terlihat penuh bercak.
‘Aku bahkan tak berani memintamu tinggal.’
‘Mintalah. Mungkin aku akan tinggal.’
‘Dan itu yang aku takutkan. Membuatmu tinggal karena cinta.’
Telunjuk kami tak lagi saling terkait. Sepasang tangan kini saling menggenggam. Menggenggam entah apa. Karena janji sepertinya tak laku di antara kami.

Dan ia beranjak. Menarik tanganku. Menggenggamnya erat. Berdua kami berjalan di bawah guyuran air hujan. Tak tergesa. Tak berlari. Sesaat, ia masih sempat menoleh ke arah jendela display bridal house. Lelaki itu menggeleng, lalu kembali berjalan. Dan tak pernah lagi menoleh. Aku bahkan tak berani memintanya untuk berhenti.

Aku selalu membenci bandara.
Bandara mengingatkanku pada ucapan perpisahan yang dingin. Hari itu, semua memang harus berakhir. Tak ada alasan untuk tinggal. Yang tersisa hanya keharusan untuk pergi. Cinta tak akan pernah sanggup membeli cita. Janji tak cukup untuk ditukar dengan hati.

Aku dan dia berpisah di pintu bandara. Punggung kami saling menjauh. Kepala kami tak lagi pernah saling menoleh. Kisah dia dan aku tersimpan rapi dalam kotak bernama ‘kenangan’: suatu ketika, kami pernah saling jatuh cinta. [tigabelas]

Pulang

November 5th, 2007 by periasaksara

It’s hard to make a comeback when you haven’t been anywhere…

Tulisan yang ada di plakat untuk nomor mobil terbaca jelas setiap kali saya memasuki kamar ketika pulang ke rumah. Ia tergantung di dinding kamar saya, yang ada di rumah orang tua saya.

Saya membeli plakat nomor mobil itu ketika berada puluhan ribu mil jauhnya dari rumah. Saya temukan di sebuah toko kecil, di sebuah kota di kaki gunung yang kerap diselimuti kabut. Konon, karena kondisi alamnya begitulah, maka tempat itu dinamakan the great smokey mountain .

Tahun ini, saya pulang ke rumah. Setelah dua tahun tak pernah pulang dan tak pula berlebaran bersama keluarga di rumah. SMS singkat dari ayah saya, cukup membuat saya memutuskan pergi ke stasiun Gambir pukul 03.00 hanya untuk mendapatkan selembar tiket kereta api Gajayana, jurusan Jakarta-Malang. Ayah saya bilang, “Saya cukup bahagia kalau kamu pulang”. Simpel, tetapi bikin saya yang ogah-ogahan ikut arus mudik, memutuskan ikut arus tahun ini.

Saya pulang sehari sebelum lebaran. Ketika sampai di rumah, hari sudah pukul 09.00.  Rumah itu sepi. Tak ada orang. Saya hanya menemukan kunci diletakkan di tempat biasanya sehingga saya bisa masuk rumah. Begitu pintu terbuka, hal pertama yang saya lakukan ada menghambur ke kamar. Ketika pintu kamar saya dorong, saya menemukan tulisan di plakat itu memenuhi luas pandang mata saya.

Seketika, perasaan rindu menyeruak. Saya sadar, saya baru saja pulang. Pulang pada sesuatu yang sangat saya kenal. Pulang pada sesuatu yang membuat kita merasa nyaman dan dirindukan. Seketika, saya paham, kenapa ratusan—atau ribuan—orang rela antre membeli tiket yang harganya lebih mahal hanya untuk pulang ketika lebaran.

Pulang membuat mereka merasa penuh. Pulang membuat mereka merasa tenang dan nyaman. Ketika yang telah lama pergi kembali pulang, ruang kosong itu kembali terisi dan menjadi lengkap.

Saya memburu kasur, mencium aroma yang sangat saya kenal. Letak barang yang membuat saya nyaman. Benda-benda kecil yang menyimpan banyak cerita. Dan saya terlelap dalam tenang hingga telepon berdering.

“Kamu sudah pulang?” Suara ayah saya terdengar di seberang.
“Hmm….” Saya menjawab sambil mengucek mata. Tak ada pembicaraan lain, tetapi saya bisa merasakan, dia senang karena tahu saya sudah pulang dan berada di rumah. Dia bisa menemukan saya berada di kamar, dan biasa tertidur dengan tumpukan buku di sebelah bantal.

Ketika bangkit dari kasur, tulisan itu kembali memenuhi mata saya. Saya tahu kenapa dulu saya membelinya. Tulisan itu selalu menjadi pengingat saya pulang. Pulang bukan sekadar kembali ke rumah. Lebih dari itu, sebagaimana Idul fitri membuat kita kembali menjadi bersih, maka ‘pulang’ untuk saya adalah kembali pada diri kita sendiri. Setelah semua perjalanan memaknai hidup, maka pulang seperti sebuah kontemplasi untuk melihat, seberapa jujur kita menyikapi hidup. Atau seberapa sadar kita menjalani hidup. (tigabelas)

Merah itu (bukan) cinta

November 5th, 2007 by periasaksara

Aku benci menstruasi karena membuat aku teringat kalau aku perempuan.
Jangan salah, aku tak pernah membenci kelaminku yang perempuan. Tidak. Namun, kalau boleh memilih, aku ingin lahir sebagai manusia saja. Tanpa kelamin. Androgini. Aseksual.

Jangan tanya kenapa. Aku sedang tak ingin membahasnya. Selalu ada malam panjang untuk perdebatan yang muncul akibat pernyataan itu.

Sebentar saja, jangan masukkan kodrat dalam percakapan kita. Aku sedang tak bicara tentang kodrat. Cukup, sediakan waktu dan kuping saja untukku. Begitu selesai, buang cerita ini dari memori otakmu. Bukan sesuatu yang harus diingat. Ini hanya gerundelan di masa datang bulan. Cerita sampah yang tak usah diteruskan.

Saat ini, aku sedang ingin berbicara tentang darah. Darah yang mengalir dari vaginaku setiap bulan. Itu kalau lagi teratur. Setahun sekali, kalau ia lagi kumat tak ingin teratur. Tapi, aku nyaris tak pernah peduli kapan ia akan datang. Teratur atau tidak. Masa bodoh. Lebih bagus kalau ia tak datang. Tak perlu merasa sakit hingga berguling-guling.

Aku membenci menstruasi.
Membenci rasa sakit pada perut. Rasa perih di bibir vagina. Dan rasa miris melihat merahnya yang mengalir di antara selangkangan. Darahnya mengingatkan aku pada merah yang perih. Merah yang menyayat. Merah yang (bukan) cinta. Merah yang penuh luka.

Penuh luka. Penuh dendam. Luka dan dendam milik perempuan. Perempuan itu menangis di sudut kamarku. Meratapi perih di kelamin dan perutnya. Dia tidak sedang datang bulan. Namun ia meringis memegang perut. Perempuan itu baru saja menggugurkan kandungannya. Ia pendarahan. Ia memerah.

Aku meringis. Lantai kamarku yang putih kini dinodai merah. Dari sela kakinya, darah merembes. Mengalir turun ke paha, betis, mata kaki hingga memerciki lantai kamar. Aku bergidik. Menahan napas. Menahan sakit yang juga mendera perutku.

Ia menangis. Aku meringis. Digigitnya bibir bawah hingga berdarah. Luka. Luka yang tak sebanding dengan perih di hatinya. Aku beringsut. Mengambil tissue di meja kamar. Mengelap lantai di bawah kakinya. Aku pun perih. Seperti pembalut, tissue itu menyerap merah.

Perempuan itu tergugu. Aku terpaku. Bicara sepertinya tak akan cukup membuat perasaannya membaik. Bisu adalah pilihanku. Dan kami membatu sambil menatap merah. Merah itu darah.

Ke mana lelaki itu? Ke mana cinta itu? Merah sepertinya (bukan) cinta.
Aku mendendam. Mendendam kepada merah.

Aku membenci menstruasi.
Ia mengingatkanku pada merah. Merah yang sakit.

Rasa sakit di perut rahim terus berteriak. Menendang-nendang selaput rahim agar darahnya menggelontor. Aku meringis, menahan perih. Sakit. Lalu, rasa hangat tiba-tiba terasa di selangkangan. Sesuatu mengalir. Darah kotor itu ke luar, tertampung di roti jepang yang menempel pada celana dalam. Aku memejamkan mata. Menahan sensasi yang turun dari perut menuju titik di bawah sana. Dan setelah itu, apakah aku dianggap bersih?

Aku benci menstruasi.
Darahnya mengingatkanku kepada kelaminku. Kenapa darah begitu dekat dengan perempuan?

Aku benci menstruasi.
Sebab ia melarang perempuan bercinta.

Sesederhana itu kebahagiaan

November 5th, 2007 by periasaksara

Selalu ada pagi di mana aku terbangun dengan kepala yang luar biasa pening.
Pening dan penat. Tapi, rutinitas hidup membuat tubuhku harus bangun dari kasur tipis dan beringsut ke kamar mandi. Mengguyur tubuh.

Begitulah. Selalu begitu.

Semua berjalan dalam hafalan. Sesuatu yang otomatis dilakukan tanpa harus membuat otak berpikir dulu, apa yang pertama kali dikerjakan.

Tapi, aku rasa, aku cukup berbahagia dengan semua itu. Iya, cukup. Mana berani aku mengaku sangat berbahagia. Aku khawatir, akan ada yang datang bertanya, ‘Apa itu kebahagiaan?’

Sementara aku, aku tidak tahu jawabannya. Tepatnya, aku belum menemukannya jawabannya. Lagian, aku juga tak ingin berada dalam posisi orang-orang yang kerap kali aku tanyakan apa itu kebahagiaan dan tak bisa menjawabnya.

Ugh. Tak bisa menjawab pertanyaan itu tak menyenangkan. Tak membahagiakan (?).

Aku tak tahu apa itu bahagia.
Kalau ada yang pernah mendengar aku berkata, ‘Aku bahagia’. Tolong, abaikan. Mungkin, saat itu aku sedang membuat kebohongan yang besar.

Saat itu. Bukan saat ini.

Aku lupa tepatnya kapan. Tapi, sejak beberapa hari lalu, aku berhenti bertanya apa itu bahagia. Dan, kalau ada orang yang datang kepadaku lalu bertanya, ‘Apa itu bahagia?’, maka tanpa ragu, aku akan menjawabnya. ‘Sepiring nasi hangat dengan tempe yang dipenyet pakai sambal bawang’ adalah penggambaran kebahagiaan untukku.

Aku rasa, aku menemukan kebahagiaan lewat makanan itu.

Aku tidak bisa makan nasi. Tapi, aku memaksakan diri makan nasi hanya demi untuk menikmati sambal bawang tempe penyet di kantin kantor. Mengabaikan semua rasa sakit selama beberapa hari ke depan. Aku tahu, itu menyiksa. Sungguh-sungguh menyiksa. Perut akan terasa melilit dan perih luar biasa. Lalu, hingga esok hari, bisa dipastikan, rute paling sering aku tempuh adalah menuju WC.

Saat memakannya, aku merasa senang bukan kepalang. Semua seperti mengabur dalam pikiran. Tak ada yang menjadi pertimbangan dalam bersikap. Tak ada kekhawatiran dalam rasa. Tak ada keraguan untuk memutuskan. Tidak. Aku hanya ingin makan. I take all risks.

Memakan dengan lahap, tersenyum sumringah, dan mengipas-ngipaskan tangan ke muka karena merasa kepedasan. Ketika sambal bawang tempe penyet dengan nasi panas mengepul masuk ke mulutku, saat itu aku merasa ‘pulang’. Tiba-tiba, aku merasa penuh. Merasa bersemangat. Merasa kenyang. Bukan, bukan kenyang karena terisi kabohidrat yang tak biasa aku santap. Bukan. Bukan perut atau mulutku yang makan. Tapi jiwa. Aku rindu sesuatu. Rindu untuk ‘pulang’. Semua itu membuat aku mengabaikan apa pun ‘penderitaan pencernaan’ yang akan terjadi setelah itu.

Apakah ‘pulang’ menjadi unsur rasa bahagia? Pertanyaan itu tiba-tiba menyeruak masuk ke benak di antara suapan nasi ke mulut. Rindu ‘pulang’ kepada apa? Ini bukan rasa rindu yang mendedah. Bukan juga rasa rindu yang membuat hati merekah. Geraknya terasa tenang menyela masuk ke hati dan tidak membuat mabuk kepayang. Tenang dan nyaman saja. Mungkin, aku hanya ingin terkenang kepada sesuatu yang disebut ‘pulang’.

Aku suka perasaan itu.
Selesai makan, aku berteriak senang, ‘Bahagia banget!’
Aku memutuskan, aku bahagia saat itu.

‘Is it worth a try?’ tanya seorang kawan saat selesai makan melihat aku meringis sambil berlalu menuju WC.
‘Yes, it’s worth!’  jawabku tersenyum lebar. Lebar sekali di antara rasa sakit yang menusuk perut.

Tak ada yang bisa menjelaskan bahagia selain kata bahagia sendiri itu. Maka, bagiku, perasaan saat menyantap sepiring nasi hangat dengan tempe penyet sambel bawang cukup mewakili rasa bahagia milikku.

Sesederhana itu kebahagiaan.