Archive for July, 2008

surat cinta

Thursday, July 24th, 2008

AKU pernah sekali menulis surat cinta.

Setidaknya, aku menganggap itu surat cinta. Jangan dibayangkan itu sebuah surat cinta yang penuh dengan pernyataan sayang dan ungkapan kasmaran.

Surat cintaku tidak kutulis di selembar kertas wangi dengan gambar hati yang merah membara. Tidak pula aku masukkan ke dalam sebuah amplop berwarna merah jambu yang distempel kecup bibir.

Surat cintaku biasa saja.

Ditulis dalam sebuah buku harian cokelat yang tak beraroma, kecuali bau kertas itu sendiri. Buku harian itu pun pemberian si Pujaan Hati.  Lelaki yang berhasil merebut hatiku dan rasa ingin tahuku, saat itu, tentang apa yang ia pikirkan.

Surat cintaku menyimpan ceritanya. Cerita tentang lelaki yang aku sebut berwarna biru. Langitku. Cakrawalaku. Angkasaku. Dan aku adalah angin yang mencumbui setiap jengkal luasnya dalam pandang yang tak bisa dibatasi. Tidak oleh siapa pun.

Buku harian cokelat itu adalah lembaran surat cinta kami. Hari pertama aku mendapatkannya sebagai hadiah, tak lebih sebuah oleh-oleh dari perjalanan liburannya ke negara bagian lain. ‘Aku tak tahu harus memberi apa,’ katanya. Aku tertawa saat itu. Tak berharap mendapatkan apa pun.

Tapi, begitulah dia. Seperti langit yang bisa kaulihat, tapi tak kauketahui batasnya, ia selalu penuh kejutan. Dia mengulurkan sesuatu berbentuk segi panjang. Tak dibungkus kertas kado yang cantik. Hanya kertas putih tipis yang pastinya langsung dari toko ketika ia membeli.
Hey, you don’t have to….’
Say that till you open it,’ sahutnya.

Aku membuka kertas putih tipis dan menemukan buku harian itu. Aku tak ingat. Sepertinya bibirku melongo membentuk huruf o. Entah kenapa, itu seperti buku harian yang selama ini ada di bayanganku. Cokelat, kuno, dan seolah sanggup menjaga semua rahasia yang kausimpan bersama waktu meski ia tak berkunci.

Dia tersenyum. Senyum yang manis. ‘Hope you like it.
I do like it.’
I have no flower. I mean, I don’t want to buy a flower.
I do not like flower.’
I know, but some men do that.
You do not.
I want. But I know, you do not like it. I choose this…as a substitute for a flower….’ Dia mengulurkan sebuah boneka kecil. Anjing berkepala tiga yang ada dalam buku Harry Potter. Hewan yang jauh dari imut, bahkan di buku dan film terlihat sangat mengerikan. Teman perempuanku tertawa ketika tahu boneka apa yang ia berikan kepadaku. ‘Masa kasih cewek boneka beginian!’ komentar temanku.

Begitulah dia. Romantis dengan caranya. Kau tak akan percaya. Aku pernah menuliskan surat cinta untuknya, dan berjanji memenuhi halaman dari setiap lembar buku cokelat itu dengan surat cinta yang serupa cerita.

Aku pernah menghabiskan malam memikirkannya. Mengingat setiap detik yang kami lalui di antara hingar-bingar pertemanan. Apa yang ia ceritakan. Ekspresinya. Tawanya. Wajah bengalnya yang sok inosens ketika berhasil mencuri cium di tengah jalanan kota. Dan hal konyol yang ia lakukan. Kadang, dengan sudut mataku, aku mengamati cara dia melihatku di antara keramaian. Sejujurnya, aku jatuh cinta pada caranya menungguku di ujung bangku kayu di tepi sungai itu, pada kencan tak resmi kami yang pertama di penghujung musim semi. Aku jatuh hati pada caranya bertanya, bagaimana bahasa bisa tercipta. Aku jatuh pada rasa jengah ketika ia tersenyum kecil tanpa banyak bersuara. Dan itu yang aku tuliskan dalam surat cintaku yang pertama untuknya.

Surat cintaku adalah Satu Kisah tentang Dia. Langitku. Biruku. Angkasaku. Cakrawalaku.

Seseorang yang pernah membuat waktuku bergulir begitu lambat dan manis. Seorang yang padanya aku pernah berharap, ada warnaku di bianglala miliknya.

Kalau kau berpikir harus ada kata cinta dalam surat cinta, maka bacalah surat cintaku untuknya. Tak ada satu pun kata cinta di situ. Hanya ada rekaman hal yang kuingat tentang dia sepanjang hari. Hanya ada cerita tentang mimpinya dan mimpiku. Berbagi cerita. Berbagi rasa. berbagi rahasia. Berbagi tawa. Berbagi duka.
Begitulah surat cintaku. Aku hanya serupa pengamat yang menyukai objek yang dilihatnya dan mencoba mendeskripsikan. Bagiku, itu melampau rasa cinta itu sendiri. Tak ada yang mampu menjelaskan cinta, selain cinta itu sendiri. Dan pada akhirnya, semua kembali kepada merasakan. Bukan mengatakan.

***

AKU pun pernah menerima surat cinta darinya.

Setidaknya aku menganggapnya itu surat cinta. Jangan dibayangkan itu sebuah surat cinta yang terangkai penuh kata indah layaknya pujangga. Bukan. Dia tak pandai menulis. Beberapa pilihan katanya bahkan membuatku tertawa geli. Tapi, entah mengapa, aku tahu, ia menulis dengan jujur, dan berusaha keras agar bisa menulis dengan indah.

Surat cintanya tidak ditulis di selembar kertas wangi dengan gambar hati yang merah membara. Tidak pula dipenuhi kata yang romantis. Tapi, entah mengapa, surat cintanya terasa manis dan mampu membuat pipi  menjadi semerah dadu.
Surat cintanya memang tidak biasa.

Ditulis dalam sebuah buku harian cokelat yang tak beraroma, kecuali bau kertas itu sendiri. Buku harian itu pun pembeliannya sendiri.

Surat cintanya menyimpan cerita tentangku. Ia mulai menuliskannya di halaman terakhir buku harian cokelat itu. Begitulah kami berkirim surat cinta; lewat sebuah buku harian cokelat. Aku memulainya dari depan, ia memulainya dari belakang. Kami akan bergantian membawa pulang buku cokelat itu hanya untuk menulis surat cinta yang serupa cerita.

Terus seperti itu. Selang dan berseling. Kau tak akan pernah tahu, bagaimana kami bermain tentang peran tukang pos mengantarkan surat cinta. Bagaimana kami berbagi rasa. Seperti  apa kami membagi rahasia. Kami seumpama dua mata-mata cilik yang setiap hari saling melempar kode. Bertukar sandi. Lalu, buru-buru pulang ke persembunyian masing-masing untuk menemukan jawaban teka-teki. Tentunya dengan dada berdebar dan hati yang seumpama bunga mekar. Tentunya ini berbeda dengan cerita dektektif beneran. Yang membaca kode sandi dengan hati cemas dan pikiran yang dipenuhi rasa ingin tahu, kapan tibanya hari naas.

Aku dan dia berjanji, akan bertemu di halaman tengah untuk memadukan kata di halaman terakhir buku harian cokelat itu. Kami menganggap itu janji yang manis.

Sungguh.

***

APA yang kauharapkan dari sebuah kisah cinta yang pernah diwarnai surat cinta?

Aku pernah sekali menerima surat cinta dalam amplop biru yang wangi. Lidah amplopnya direkatkan dengan isolasi berwarna cantik : baby blue. Biru pucat, aku menyebutnya.

Surat cinta yang aku terima tidak ditulis di atas selembar surat bergambar hati dengan goresan ‘perhaps love’. Amplop itu hanya berisi dua kartu remi, masing-masing bergambar king dan gueen hati, sobekan separuh dari satu halaman paling belakang buku cokelat. Ia pernah merobeknya. Hari itu, ia memutuskan untuk mengembalikannya kepadaku, sehari sebelum semuanya harus selesai, dan mengantarkannya sendiri kepadaku.

Senyumnya tipis, dan tetap manis. ‘Sometimes, king and queen cannot “sit” together in the real world. But, still you have that place in my heart.’ Hari itu, aku menjadi ratu tanpa takhta dan mahkota di hatinya.

That was the last time; we kissed to each other.

Begitulah cerita cinta yang diwarnai surat cintaku berakhir. Tak pernah bertemu di ujung cerita.

Tak apa. Tidak setiap cerita dimaksudkan untuk bahagia bersama. Kita bisa berbahagia sendiri dan bertukar cerita agar yang lain merasakan bahwa hal biasa bisa menjelma luar biasa pada waktunya.

Aku merasa bahagia karena pernah sekali menulis surat cinta. [13]
Jakarta, 25 Juli 2008

untuk apa?

Wednesday, July 23rd, 2008

Untuk apa Tuhan menciptakan kita di dunia ini?
Jawaban saya sih, simpel, dan mungkin terkesan nggak mau mikir. Tapi
sungguh, ini jawaban yang saya dapat untuk tahun-tahun ketika
pertanyaan itu bermain di benak saya.

: untuk menjadi lebih baik.

Sesederhana itu.
Dan, saya terlongo-longo mendapati kenyataan bahwa ternyata upaya
menuju ke sana tak pernah sesederhana kata ‘baik’ itu sendiri. [13]

Ralat: Bukan Cinta

Tuesday, July 15th, 2008

Kita hampir bercinta.

Iya. Hampir saja. Siang itu begitu membara. Aku bahkan tidak tahu, apa yang menggerakkan kita. Dengus napas panasmu yang memburu, atau gesekan kulit yang lengket karena keringat. Kaubilang, mungkin karena bibirmu rindu disentuh bibirku.

Hahaha.

Masa iya? Bukankah semuanya sudah jelas buat kita. Cerita kita sudah usai. Selesai pada waktu yang kita pilih: dua tahun yang lalu. Lantas, kenapa juga masih mendamba?

Kau tak menjawab. Tentu saja. Sebab kau bahkan tak mendengar apa yang sedang aku bicarakan. Matamu terpejam. Bibirmu menjelajah leherku. Pelukanmu semakin erat. Entah kenapa, aku justru merasa semakin ciut.

I. love. You.

Kaubilang itu di ujung ciuman panjangmu. Setelah gigitan basahmu di telingaku. Kau bahkan tak menyisakan ruang bagi udara di antara tubuh kita yang kian merapat.

Shit!

Apakah kaudengar umpatanku? Maaf, aku bukan kekasih yang romantis. Bukan pula perempuan yang manis. Harusnya, aku menjawab itu dengan kenes, ‘I love you, too’. Tapi, ini sebaliknya. Aku mengumpat pedas.

Aku tak ingin minta maaf sebab telah menjawab cinta dengan tai. Tidak. Ini bukan masalah ego atau gengsi yang selalu kita ributkan di tahun-tahun lalu. Mana berani aku bilang cinta, sementara sebagian dari hati kecilku sendiri ragu, bahwa ini hanya semacam… ya, semacam cinta, mungkin? Sorry, aku bingung mencari padanan katanya. Nantilah, kubuka kamus. Mungkin ada di dalam kamus serapan, tentang sesuatu semacam cinta.

Sayang, kalau kaubaca ini, aku hanya ingin mengajakmu lebih realistis. Cinta tak melulu terasa manis. Ia bisa miris. Kata cintamu membuat aku semakin mempertanyakan cinta. Percintaan dan persetubuhan pastinya beda, bukan? Apakah kau yakin, persenggamaan ini ada sebuah percintaan atau tak lebih dari persetubuhan? Sekadar tubuh yang bergesek dan saling memuaskan, atau cinta yang memberi dan saling meluaskan?

Bukannya aku menganggap kau seorang pembohong. Untuk sebuah kata cinta di sela-sela ‘pergumulan’ panas kita, di antara deru napas yang memburu karena nafsu, kau terdengar naïf karena percaya dan mengucapkan semua itu sebagai cinta. Setidaknya, bagiku.

Mari bicara jujur. Aku pikir, apa yang kaurasakan bukan cinta. Aduh, aku bayangkan, kalau kuucapkan ini di depanmu tadi siang, keningmu pasti langsung berkerut. ‘Susah banget sih mau mesra-mesraan ama elo!’ begitu sungutmu. Dan pelukanmu pasti mengendur. Lalu, aku akan memainkan cuping hidungmu dengan jari telunjukku. Mencoba merayumu, agar mau mendengar apa yang aku bicarakan. Kautahu, aku selalu merindukan ‘percintaan’ yang panas dengan percakapan yang intens. Tapi, siapa pula lelaki yang mau melayani pertanyaan-pertanyaanku di sela gemuruh berahinya?

Dan kau akan bilang, ‘Bisa nggak sih lo berhenti mikir pas lagi “beginian”?’

Lelakiku, tahukah kau, aku selalu tersenyum bila mendengar umpatan di sela ciumanmu? Kau terganggu. Tapi, kau juga mencandunya, kan? Akui saja!

Oke. Siang tadi, aku tak ingin  menjelma menjadi mantan kekasih yang tak mesra. Setelah sekian lama tak bersua, rasanya tak lucu juga kalau aku merusak ‘interaksi’—hihihi, aku hanya sedang bermain dengan diksi—kita siang tadi dengan pikiran-pikiran yang melintas di otakku.

Jadi kuputuskan;
untuk diam hingga bibirmu berhenti mencumbu dan tubuhmu tak lagi memelukku.

Sayang, aku tidak sedang menertawaimu. Aku hanya ingin tahu, apa yang kaupikirkan seandainya kubilang ini tidak lebih dari naluri binatang? Keinginan kita untuk keluar dari rutinitas. Mencicipi dosa yang membuat kita terlihat seperti dua orang pembangkang yang berusaha mengibuli dunia. Dua orang pendosa yang merayakan rahasia kecil di antara mereka dan bahagia karena berhasil menyimpannya.

Huh. Jangan khawatir. Aku tak akan tersinggung seandainya ini memang benar bukan cinta. Aku bahkan nyaris yakin, ini bukan cinta. Ini berahi, ini naluri liar kita.

Cinta tak pernah salah. Hanya saja, ia terkadang datang terlambat, atau sialnya lagi, salah alamat. Ketika itu terjadi, ia menjelma menjadi nafsu yang kemudian kita labelkan cinta. Manusia itu makhluk penuh intrik. Zoon politicon, kata Aristoteles. Agar tak terlihat murahan, kita menganggap persenggamaan ini sebagai persekutuan suci dengan mengatasnamakan cinta. Kau-aku hanya ingin terlihat sebagai manusia yang punya cinta, dan tidak diperbudak nafsu. Dengan demikian, kau dan aku menjadi benar dan bermartabat, serta tentu saja, tidak bejat.

Lelakiku, kalau kaubaca ini, aku tak tahu apakah kau akan tersinggung. Kalau setelah ini, kauputuskan untuk tak lagi menemuiku, buatku, itu tak apa. Tapi sungguh, aku hanya ingin jujur.

Inilah yang membuatku berhenti menciummu, tadi siang.

Lelakiku,
kita hampir bercinta.
Oops. Ralat.
Kita hampir bersetubuh. Siang tadi. [13]

Jakarta, Satu hari di bulan Juli, 2008