Archive for February, 2008

Kekasih Hujan

Friday, February 1st, 2008

Perempuan itu masih menunggu.
Di sana.
Di pinggir jendela dengan kacanya yang megah dan polos.
Duduk seorang diri menatap ke luar.
Menanti entah apa. Melihat entah ke mana.

Ia bergeming.
Siang ini memang dingin. Hangat matahari sedari pagi enggan menyapa Jakarta di bulan Januari. Ia rapikan syal merah yang membalut lehernya. Begitu kontras dengan pakaian hitam yang dikenakannya. Mukanya polos tak berpoles. Ia sendiri. Tapi aku tak yakin apakah ia kesepian. Sebab, ada senyum tipis di ujung bibirnya yang merah jambu. Mungkin, ia terkenang pada sesuatu.

Kenangan yang membuat pipinya menjadi semerah dadu.

Perlahan, disesapnya cangkir teh yang ada di hadapannya. Sesekali bibirnya meniup-niup minuman yang mengepulkan asap.

Pernah, ia menoleh. Membuang pandangannya dari jendela. Aku mengartikannya itu seperti upaya ia untuk keluar dari dunia miliknya sendiri sejenak. Dan sejenak itu yang aku simpan di dalam memori otakku. Mata cokelatnya yang pias bertemu mataku. Aku membeku.

Matanya bicara banyak. Namun, ia enggan membaginya dengan orang lain, termasuk aku. Dibatasinya aku dengan sebaris senyum. Tipis. Setipis tadi. Sayang, tak semanis tadi.

Mungkin ini bisa disebut astral. Aku seolah dilempar ke tepi pintu dunianya. Meraba-raba, apa yang tengah ia pikirkan. Menebak adakah yang ia tunggu.
Seorang lelaki?
Sahabat?
Rekanan bisnis, mungkin.
Atau, sekadar menghabiskan waktu untuk bertemu kenangannya.
Namun, daun pintunya tak terkuak. Aku tetap sibuk menebak-nebak.
***

Suara petir menggelegar. Langit kelabu di luar sana memuntahkan hujan. Ia kembali memandang ke jendela. Meninggalkan aku yang kehausan akan dirinya. Tak beringsut dari tepi jendela. Omongan orang tua, ‘Jangan berdiri di dekat jendela kalau hujan, nanti disambar geledek’ tak diacuhkannya. Bahkan, ujung jarinya kini menempel di kaca. Ikut  menyusuri bulir air yang jatuh. Lambat bergerak. Seperti bom waktu yang menunggu meledak. Sebelum menghentak ke tanah dan melesak dengan membawa seribu kisah.

Aku tercenung.
Perempuan itu seolah tengah bercakap dengan hujan.
Berbagi cerita yang membuat bibirnya terus menyinggungkan senyuman tipis nan manis.
Aku mati penasaran. Aku cemburu pada hujan. Mereka tampak begitu mesra. Tak berjarak. Tak ada tempat untukku. Padahal, aku begitu memujanya. Mencintai setiap jengkal dirinya, sekecil apa pun.

Apa yang ia bisikan kepada hujan?
Sepertinya, ia berkisah tentang banyak hal. Terlihat begitu akrab. Sementara aku, tetap di sini. Mendambanya tak tentu arah. Aku seperti pesakitan. Mengamati setiap geraknya. Di setiap hari ketika hujan turun. Duduk di bangku yang sama. Memandang hal yang sama. Namun, tak juga bisa menebak apa. Bahkan, tak juga sepenggal kata, ‘hallo’ untuk menyapa.

Mungkin, besok, bisa aku mulai dengan ‘selamat pagi’. Atau, ‘hai ketemu lagi’. Setiap hari, menjelang pulang selalu kuniatkan itu. Tapi, sampai hari ini, tak sepatah kata pun keluar dari bibirku, ketika esoknya aku melihatnya lagi. Aku memilih menatapnya saja. Mengajaknya bicara dalam diam.

Ia pemandangan yang indah buatku hari ini.
Sama seperti kemarin.
Kemarin.
Dan kemarinnya lagi.
Ketika hujan turun: Ia selalu ada di situ.
Dan aku selalu di sini. Menjadi pemuja gelap Sang Kekasih Hujan.

Warna Jingga Pagi Itu

Friday, February 1st, 2008

Katakanlah aku seorang pembohong.
Membawa jingga dalam cerita di sebuah pagi. Atau, kau boleh juga menyebutku seorang pengkhayal ulung, yang suka melamun di pinggir sungai untuk menceritakan sepotong jingga cantik di pagi hari.

Pagi itu tak lebih istimewa dari kecupan bibir pengantar tidur pacarku di malam hari. Aku sang pecinta malam. Bagiku menit-menit merangkak gelap terasa sangat mendebarkan. Menyenangkan. Ada gairah yang melegak. Seolah kebebasan ada di depan mata ketika langit berangsur kelabu, lalu menjadi terlihat tanpa dasar: gelap. Dan bibir pacarku akan mendarat di bibirku. Berbagi ludah. Mengecap lidah. Aku kecanduan pada rasa bibirnya yang basah.

Begitu menyenangkan.

Setelah itu, tak ada beda. Pagi pun menjemput kabut. Perlahan embun menguap, seolah tak pernah tergenggam bumi. Aku memutuskan berlari memasuki hutan. Rutinitas berkencan dengan pagi atas nama pembakaran kalori.

Semuanya terasa biasa-biasa saja hingga aku tiba di bibir sebuah terowongan usang. Tersentuh namun tak terpakai. Mungkin, ia punya jejak sejarahnya sendiri. lorong yang membawa ke negeri antah berantah entah di sebelah mana. Tempat para suku Indian bersembunyi dari kejaran pelor panas sang musuh, mungkin? Sekali lagi, mungkin.

Atau, terowongan ini yang membawa mereka pada tanah kebebasan. Menjemput kemerdekaan untuk tanah leluhur. Sebuah negeri makmur impian mereka, sebelum kemudian warna kulit menjadi masalah. Dan ras menjadi persoalan pelik dalam sejarah peradaban manusia. Maksudku: seolah-olah pelik.

Hutan seolah punya cerita sendiri tentang ia: sang terowongan. Dan gelap ada di sana. Tak ada yang perlu ditakutkan. Mari kita melebur! Dan aku melangkah, berharap sebuah cerita akan bermain di otak pengkhayal milikku.

Seperti sungai, aku menyusuri tepiannya. Membiarkan indera peraba di bagian telapak tangan meniti dindingnya. Lembap dan berlumut. Bau basah menguar. Suara burung di atas sama berkoar. Aku dalam diam berkelakar.

Berkelakar dengan ketidakpastian. Ah, aku bisa berbalik pulang. Tak usah cemas. Gelap tak akan melenyapkanmu.

Namun, cahaya di ujung lorong, yang berpendar, menarikku mendekat. Jangan pulang. Terus, aku di sini menantimu! Suara itu seolah berbisik di gendang telinga. Begitu dekat. Begitu akrab.

Aku tak akan melukaimu. Tak seujung rambut pun.

Dan di sanalah ia menantiku.
Dalam warna jingganya yang selembut beludru. Kelabu yang mengabur menjadi cahaya berpendar. Begitu indah. Betapa cantik.

Megah. Menakjubkan. Sekaligus sederhana. Bahasa cahaya yang tanpa suara.
Betapa aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan berkali-kali jatuh cinta di setiap kedipan kelopak mataku.

Duduk sini dekat aku.
Ia hanya serupa cahaya, tak berwujud namun bisa tertangkap indera penglihatanmu.
Aku merindukanmu. Tak berbatas. Tak bertepi.
Aku meringkuk di dekatnya. Rasa hangat menjalar seketika.
Aku mencarimu.
Kau menemukan aku.
Waktu akan selalu mengantarkanmu padaku.
Apa ini?
Tak usah repot memikirkan apa ini-itu.
Jingga bergerak. Aku serasa hidup dalam cahaya.
Kau nyaman?
Aku mengangguk.
Aku selalu membuatmu nyaman.
Kenapa?
Karena akulah tempatmu pulang.
Kenapa baru sekarang bertemu?
Aku selalu ada di dekatmu.
Di  mana?
Di balik kegelapan yang tak berdasar itu.
Aku mencintai gelap.
Pasti. Karena aku ada di situ.

Dan perlahan, warna kuning keemasan berlapis jingga terbentang di hadapanku. Jingga itu tetap di sana. Dalam jangkauan mataku. Kilau permukaan air sungai membuatku terpukau. Betapa waktu terasa sangat abadi saat ini. Ia berdiam diri. Kamu salah kalau berpikir semua seolah berhenti. Sungai tetap mengalir, entah ke mana. Tupai-tupai tetap berloncatan, burung tetap bercicit, dan daunan yang menguning perlahan jatuh  menyentuh tanah. Beberapa menimpa permukaan sungai, terserat arus, menuju entah pada apa. Mungkin pada sesuatu yang tak tersentuh oleh keindahan apa pun di muka bumi ini.

Bisakah aku selamanya di sini?
Tidak. Kau harus kembali pada sesuatu di dalam terang.
Aku suka di sini.
Aku senang kau pun di sini.
Tak bertemu mungkin lebih baik.
Kau takut perpisahan?
Entah. Kamu?
Hm… saat mengerikan ketika harus membiarkanmu pergi.
Sungguh?
Aku membencinya. Tapi selalu menanti pertemuan dengan dada berdebar.
Kamu berdebar?
Selalu berdebar ketika kamu semakin mendekat.
Aku merasa lengkap.
Jingga berpendar. Aku mengartikan itu senyum. Kadang gelap tak selamanya pekat. Kamu pun menemukan terang di sini.
Aku menemukanmu.
Kita saling menemukan.

Sesuatu menggigit ujung jari kakiku. Aku bergeming. Pandanganku seketika gelap. Seperti terseret masuk ke dalam pusara yang dingin dan gelap. Tak perlu takut. Gelap tak akan melenyapkanmu!

Perlahan, kelopak mataku terbuka. Mengerejap karena ribuan cahaya menyerbu retinaku. Biru warna langit membentang. Silau. Di mana jingga?

Ia berubah jadi tupai!
Seekor tupai menggigiti ujung kakiku yang melonjor. Menyisakan rasa geli. Pening menyerang kepalaku. Jiwaku menemukan raga yang bersandar di batu besar dan terkulai di pinggir sungai.

Bibir terowongan itu masih di sana.  Bisu tanpa cerita. Dan sekejap, rasa kehilangan itu kembali menyerang.

: Aku sendirian.

Aku menginginkan jingga itu abadi. Bergelung dalam rindu yang tak berkesudahan. Tapi sudahlah. Sebaiknya aku pulang, dan kembali menanti malam. Hingga bibir pacarku menjemput.

Simpan rindu itu baik-baik. Entah kapan, akan ada lagi cerita tentang sepotong jingga di pagi hari. Atau… di sore hari.

Apakah kau masih menganggapku seorang pembohong?
Katakanlah begitu kalau itu bisa membuatmu mendengarkan cerita ini. [tiga belas]

Jakarta, 30 Januari 2008