Cantik

October 26th, 2008 by periasaksara

INILAH siklus kehidupan. 

Yang tua akan digantikan yang muda. Begitulah, satu-satu, daun yang berrguguran akan digantikan pucuk-pucuk daun muda. Termasuk dalam urusan tampil menarik.

Entahlah. Semakin uzur seseorang, ia semakin tak punya hak untuk tampil menarik. Saya tegaskan. Ini bukan teori mutakir abad 21, Kawan. Bukan. Ini teori yang bergerak mengikuti siklus hidup manusia atas nama kepantasan dan kelaziman. Dan sayangnya, kepantasan dan kelaziman untuk tampil cantik dan atau menarik hanya milik kaum muda. Semakin lama kita hidup maka semakin berkurang hak kita untuk tampil menarik.

Kadang, bukan kita yang sengaja meletakkan hak untuk tampil menarik seiring dengan usia. Namun, pilihan yang diberikan untuk mereka yang semakin tua tak lagi banyak. Bukan kita yang tanpa sadar menguranginya, namun pilihannya memang tak lagi variatif.

Apa memang harus begitu. Atau, kita saja yang selalu mengidentikan cantik dan menarik hanya untuk mereka yang masih muda. Mereka yang sudah tua? No way, silakan minggir! Toh, Anda sudah menikmati hidup lebih lama! 

***

 ‘ANAK saya bilang, “Mami sudah uzur. Kenapa juga masih ke salon?”.’

Perempuan itu memegang rambut bagian sampingnya yang sudah di-blow ulang. Mematut bayangan dirinya. Rambutnya di-blow tinggi, menutupi kulit kepalanya yang terlihat karena rambut yang semakin jarang. Untuk usianya yang sudah 70 tahun, harusnya rambut miliknya berwarna putih. Namun, berkat penemuan pewarna rambut dan hasil perawatan salon langganannya ini, ia tetap memiliki warna hitam rambutnya.

Pegawai salon tertawa. ‘Lalu, Tante bilang apa?’

‘Saya bilang, kita perempuan ini serba salah. Kalau kita tidak merawat diri, kita jadi kurang menarik. Kalo kita tidak menarik, orang bilang kita tidak pandai mengurus diri. Tapi, kalau kita sudah tua, dan tetap ingin merawat diri, orang bertanya, buat apa dan terkesan ada-ada saja.’

Ia menatap lurus ke arah cermin. Di kaca cermin itu, ia seperti bicara kepada dirinya sendiri. Menyadari bahwa hidup terus berjalan, dan usianya terus bertambah. Garis-garis di wajahnya semakin banyak. Bedak setebal apa pun tak akan bisa menutupi keriput itu. Lipstik semerah apa pun tak akan bisa mengembalikan warna asli pada bibir yang semakin pias. Bahkan, perawatan rambut yang kerap dilakukannya seminggu sekali tak akan mampu menambah ketebalan dan mengembalikan warna asli rambutnya secara alami. Waktu memang tak akan pernah bisa berbohong. Dan ia sadar, ia juga tak akan bisa mengelabui sang waktu.

***

SAYA tercenung mendengar pembicaraan yang terjadi di belakang punggung saya. Lewat cermin di depan, saya bisa melihat apa yang terjadi di belakang punggung. Nyonya si pemiliki salon yang tengah memotong rambut saya sepertinya sadar kalau saya menyimak penuh percakapan yang terjadi.

‘Tante itu, walau sudah tua tetap rajin ke salon,’ terangnya. Saya pun manggut-manggut. Rutinitas ke salon perempuan itu sudah saya curi dengar ketika baru akan melangkah duduk di kursi saya.

‘Tante akan merayakan ulang tahun perkawinannya di mana?’ Pegawai salon kembali bertanya kepada perempuan itu.

‘Anak saya akan menjemput saya. Saya tidak tahu ke mana mereka akan membawa saya dan suami. Mereka hanya meminta saya untuk siap-siap. Saya hanya ingin tampil cantik di hari ulang tahun perkawinan saya.’

Tante Pemilik Salon memandang saya dari kaca. ‘Dia suka lupa apa yang dia bicarakan. Tadi dia menceritakan hal yang sama ketika saya memotong rambutnya,’ kata Tante Pemilik Salon dengan nada suara yang rendah. Mungkin, ia khawatir ucapannya didengar si perempuan itu. ‘Dia suka bercerita apa saja kepada semua pegawai di sini. Tapi, dia sering lupa kepada siapa dia bercerita dan apa yang diceritakan.’

Saya tersenyum. Itu bukan hal yang konyol untuk saya. Kadang, seseorang butuh menceritakan suatu kisah berkali-kali kepada orang yang sama untuk meyakinkan, tak ada yang terlewatkan. Bisa jadi karena ia senang mengingat hal yang terjadi ketika menceritakannya. O, ya, tentu saja itu terkadang terdengar membosankan dan melelahkan untuk orang yang diberi cerita.

‘Tidak ada yang salah kan kalau perempuan tua seperti saya rajin ke salon?’ Pertanyaan tiba-tiba itu membuat pegawai salon, Tante Pemilik Salon, dan saya yang mencuri dengar terdiam.

‘Entahlah, saya merasa, orang selalu merasa kalau perempuan tua ke salon itu aneh. Padahal, saya hanya ingin menyenangkan diri saya, juga suami saya,’ lanjutnya tanpa menunggu  jawaban dari siapa pun.

Diam-diam saya mengamini ucapannya. Dia benar. Entah, mungkin tak banyak yang sadar, kadang, ketika kita bertemu perempuan tua yang berdandan, kita melabelkannya nenek genit. Menganggap tak pantas lagi orang yang sudah berumur berdandan neko-neko. 

Saya teringat kejadian sebelum saya masuk ke salon. Mobil saya harus menunggu untuk parkir karena ada mobil  lain yang melintang di area parkir. Saya penasaran. Lama sekali pemilik mobil ini keluar. Perlahan, pintu mobil terbuka. Saya menduga yang bakal keluar adalah ibu-ibu pejabat atau seorang perempuan muda yang lelet dan manja habis. Oh, oke, beginilah sinisnya saya menanggapi ibu-ibu bersasak tinggi dan perempuan-perempuan muda yang tak bisa bergerak cepat karena kemayu. Dan salon, sayangnya, sering dipenuhi perempuan seperti ini.

Satu menit berlalu. Saya mulai tak sabar. Penumpang mobil belum juga keluar. Dari pintu satunya keluarlah perempuan muda dengan pakaian suster. Saya semakin malas, oh, oke, pasti ini ibu-ibu muda yang tidak pengen anaknya merecoki jadwal salonnya sehingga perlu bawa suster. Lalu, suster itu bergerak ke bagasi mobil mengeluarkan tongkat kaki empat. Suster muda itu meletakkan tongkat di depan pintu yang telah terbuka. Ia menjulurkan badannya ke dalam, menarik seseorang keluar dari mobil.

Dan saat itulah saya melihat, rupa perempuan yang sedari tadi saya tebak-tebak. Seorang perempuan tua dengan kepala nyaris botak dan badan ringkih yang kurus. Untuk berjalan dengan tongkat berkaki empat pun, ia masih harus dipapah oleh satu orang lagi.

‘Mau ngapain nih nenek ke salon?’  Saya sempat berpikir demikian. Refleksi, mungkin, jawab otak saya segera. Setelah memarkir mobil, saya berjalan mendahului si nenek masuk ke salon.

Hari ini, tebakan saya melulu meleset. Nenek bertongkat kaki empat itu tidak refleksi. Ia duduk tak jauh dari saya. Tadi, ketika rambut saya dicuci, rambutnya pun dicuci. Ketika rambut saya dipotong, ia justru sedang memejamkan mata menikmati pijitan lembut di kepalanya yang sedang di-cream bath.

***

PERTANYAAN perempuan tua yang hendak merayakan ulang tahun perkawinannya menampar saya.

Jujur. Kadang saya masih suka mencebil sinis ketika melihat perempuan berumur tampil dengan dandanan lengkap. Sering tak habis mengerti mengapa mereka melakukan hal itu. Saya lupa. Harusnya, saya bertindak adil sejak dalam pikiran.

Iya. Apa yang salah dengan perempuan berumur yang pergi ke salon? Berdandan habis-habisan dengan make up lengkap dan baju berpotongan modern? Bukankah memang sifat dasar manusia selalu ingin tampil menarik? Dan, tak ada hukum yang melarang hal itu bukan?

Tampil menarik hak semua orang. Tak peduli tua-muda. Yang menganggap itu lucu, konyol, dan tidak pantas, justru kita yang masih muda. Menganggap semua keistimewaan itu hanya milik kaum muda saja.  Dan ini pun didukung oleh industri kapitalis dunia fashion dan kecantikan. Industri kecantikan dan fashion hanya dibuat untuk mereka yang masih muda. Lihatlah iklan dan model yang dipakai. Bahkan, entah kenapa, saya merasa manekin yang ada di toko-toko pakaian pun adalah representasi dari kemudaan.

Kalau pun ada kosmetik bagi perempuan yang usianya semakin matang, pasti berkaitan dengan upaya pencegahan penuaan dini. Bagaimana menyamarkan kerut di mata dan leher. Bagaimana mengencangkan kulit paha dan perut agar selulit tak ada.  Atau bagaimana agar bokong dan payudara tak kendur.

Tak banyak juga produk fashion dirancang untuk mereka yang sudah tua. Kalau kita berjalan-jalan ke mal, seluruh gerai toko memajang desain pakaian untuk mereka yang muda. Untuk yang tua, kita harus jeli menyibak satu per satu jejeran pakaian yang ada. Ujung-ujungnya, mereka memamerkan desain konservatif yang mengarah ke religiusitas : baju kurung dengan kerudung.

Saya bergidik. Menjadi tua itu menakutkan. Pilihan mendadak terasa homogen. Tak heran kalau ada yang bilang, dunia anak muda adalah dunia penuh warna. Pilihan hidup mereka variatif. Sementara, dunia orang tua, dunia yang kelabu. Yang tertinggal hanya hitam-putih. Seperti piramida, semakin tua seseorang, lingkungannya semakin menyempit, dan pilihannya pun semakin sedikit. Yang gawat, kita kadang menganggap ini waktu yang tepat buat tobat!

***

‘SAYA hanya ingin merawat diri saya. Walaupun dibilang sudah uzur oleh anakn saya, saya tetap ingin terlihat menarik,’ kata perempuan tua tadi.

Kali ini, ia berdiri dari kursinya. Sempurna. Rambutnya telah dicuci, dipotong, dan di-blow. Wajahnya sudah dirias. Ia mengenakan blus broken white polos dengan celana denim berwarna krem. Tangannya menenteng tas jinjing berwarna putih bersih dengan aksen emas. Samar, saya mencium bau parfum-nya ketika ia bergerak, melintasi punggung saya, lalu menghampiri Nenek Bertongkat Kaki Empat.

‘Tadi ke gereja pagi?’ tanyanya. Ah, rupanya mereka saling kenal. Nenek Bertongkat Kaki Empat mengangguk. Mereka kemudian bercakap dalam bahasa Belanda.

‘Iya, perempuan tua seperti kita ini serba salah. Mau menata rambut saja bingung. Rambutnya sudah habis. Kalau pergi ke salon, orang selalu bertanya, mau apa, buat apa.’ Perempuan tua itu kembali mengulangi pembicaraannya.

Nenek Bertongkat Empat membenarkan. ‘Padahal kita hanya ingin merawat diri. Menikmatinya.’

‘Kalau kita berantakan, tidak terawat, yang malu juga kan suami kita, anak kita,’ Perempuan tua melanjutkan. ‘Ya sudah, ik mau pulang. Keburu anak-anak saya datang menjemput.’ Ia menepuk pundak Nenek Bertongkat Kaki Empat dan melambaikan tangan kepada Tante Pemilik Salon.

‘Iya, Tante. Hati-hati. Selamat ulang tahun perkawinan!’ seru Tante Pemilik Salon. Perempuan tua itu tersenyum sumringah lalu melangkah pelan ke pintu keluar dengan muka berseri.

Entahlah, kali ini saya merasa,

ia perempuan paling cantik yang pernah saya lihat keluar dari salon hari ini.

Saya tahu, ini bukan karena perawatan yang baru saja ia lakukan. Namun karena rasa bahagia terpancar dari wajahnya. Ada harapan di situ. Ada yang ia tahu pasti menunggunya: anak-anak dan suami.

Kali ini, waktu tak lebih tamu yang mereka undang untuk merayakan dan menikmati kebersamaan yang tumbuh tua bersama mereka.

***

GROWING older is for sure. 

Sesuatu yang pasti. But then, I think, I would like to put: ‘… and a very sexy thing’ to continue those words.

Mungkin, ketika beranjak tua, saya tetap akan menjalankan rutinitas saya : sebulan sekali cream bath, tiga bulan sekali potong rambut, well boleh lah ditambah dengan luluran. Lalu, ketika saya berdiri telanjang di depan cermin, saya akan menghitung kerut yang muncul di sekitar mata saya, gelambir di leher saya, dan selulit di paha saya.

Hm, mungkin juga,

saya masih akan mengenakan celana jeans Levi’s koleksi saya yang sudah buluk dan robek-robek. Termasuk koleksi kaus hitam-putih saya. Semoga saja, sampai saya tua, ukurannya masih cukup.

Kalau ada yang bertanya mengapa saya melakukan hal tersebut—mungkin anak saya, mungkin tetangga saya, mungkin partner hidup saya—saya sudah menyiapkan jawabannya dari sekarang.

Untuk diri saya sendiri.

Saya hanya ingin tumbuh tua bersama waktu, tanpa menyesali apa pun. Tanpa perlu melawannya.

Jakarta, 26 Oktober 2008

surat cinta

July 24th, 2008 by periasaksara

AKU pernah sekali menulis surat cinta.

Setidaknya, aku menganggap itu surat cinta. Jangan dibayangkan itu sebuah surat cinta yang penuh dengan pernyataan sayang dan ungkapan kasmaran.

Surat cintaku tidak kutulis di selembar kertas wangi dengan gambar hati yang merah membara. Tidak pula aku masukkan ke dalam sebuah amplop berwarna merah jambu yang distempel kecup bibir.

Surat cintaku biasa saja.

Ditulis dalam sebuah buku harian cokelat yang tak beraroma, kecuali bau kertas itu sendiri. Buku harian itu pun pemberian si Pujaan Hati.  Lelaki yang berhasil merebut hatiku dan rasa ingin tahuku, saat itu, tentang apa yang ia pikirkan.

Surat cintaku menyimpan ceritanya. Cerita tentang lelaki yang aku sebut berwarna biru. Langitku. Cakrawalaku. Angkasaku. Dan aku adalah angin yang mencumbui setiap jengkal luasnya dalam pandang yang tak bisa dibatasi. Tidak oleh siapa pun.

Buku harian cokelat itu adalah lembaran surat cinta kami. Hari pertama aku mendapatkannya sebagai hadiah, tak lebih sebuah oleh-oleh dari perjalanan liburannya ke negara bagian lain. ‘Aku tak tahu harus memberi apa,’ katanya. Aku tertawa saat itu. Tak berharap mendapatkan apa pun.

Tapi, begitulah dia. Seperti langit yang bisa kaulihat, tapi tak kauketahui batasnya, ia selalu penuh kejutan. Dia mengulurkan sesuatu berbentuk segi panjang. Tak dibungkus kertas kado yang cantik. Hanya kertas putih tipis yang pastinya langsung dari toko ketika ia membeli.
Hey, you don’t have to….’
Say that till you open it,’ sahutnya.

Aku membuka kertas putih tipis dan menemukan buku harian itu. Aku tak ingat. Sepertinya bibirku melongo membentuk huruf o. Entah kenapa, itu seperti buku harian yang selama ini ada di bayanganku. Cokelat, kuno, dan seolah sanggup menjaga semua rahasia yang kausimpan bersama waktu meski ia tak berkunci.

Dia tersenyum. Senyum yang manis. ‘Hope you like it.
I do like it.’
I have no flower. I mean, I don’t want to buy a flower.
I do not like flower.’
I know, but some men do that.
You do not.
I want. But I know, you do not like it. I choose this…as a substitute for a flower….’ Dia mengulurkan sebuah boneka kecil. Anjing berkepala tiga yang ada dalam buku Harry Potter. Hewan yang jauh dari imut, bahkan di buku dan film terlihat sangat mengerikan. Teman perempuanku tertawa ketika tahu boneka apa yang ia berikan kepadaku. ‘Masa kasih cewek boneka beginian!’ komentar temanku.

Begitulah dia. Romantis dengan caranya. Kau tak akan percaya. Aku pernah menuliskan surat cinta untuknya, dan berjanji memenuhi halaman dari setiap lembar buku cokelat itu dengan surat cinta yang serupa cerita.

Aku pernah menghabiskan malam memikirkannya. Mengingat setiap detik yang kami lalui di antara hingar-bingar pertemanan. Apa yang ia ceritakan. Ekspresinya. Tawanya. Wajah bengalnya yang sok inosens ketika berhasil mencuri cium di tengah jalanan kota. Dan hal konyol yang ia lakukan. Kadang, dengan sudut mataku, aku mengamati cara dia melihatku di antara keramaian. Sejujurnya, aku jatuh cinta pada caranya menungguku di ujung bangku kayu di tepi sungai itu, pada kencan tak resmi kami yang pertama di penghujung musim semi. Aku jatuh hati pada caranya bertanya, bagaimana bahasa bisa tercipta. Aku jatuh pada rasa jengah ketika ia tersenyum kecil tanpa banyak bersuara. Dan itu yang aku tuliskan dalam surat cintaku yang pertama untuknya.

Surat cintaku adalah Satu Kisah tentang Dia. Langitku. Biruku. Angkasaku. Cakrawalaku.

Seseorang yang pernah membuat waktuku bergulir begitu lambat dan manis. Seorang yang padanya aku pernah berharap, ada warnaku di bianglala miliknya.

Kalau kau berpikir harus ada kata cinta dalam surat cinta, maka bacalah surat cintaku untuknya. Tak ada satu pun kata cinta di situ. Hanya ada rekaman hal yang kuingat tentang dia sepanjang hari. Hanya ada cerita tentang mimpinya dan mimpiku. Berbagi cerita. Berbagi rasa. berbagi rahasia. Berbagi tawa. Berbagi duka.
Begitulah surat cintaku. Aku hanya serupa pengamat yang menyukai objek yang dilihatnya dan mencoba mendeskripsikan. Bagiku, itu melampau rasa cinta itu sendiri. Tak ada yang mampu menjelaskan cinta, selain cinta itu sendiri. Dan pada akhirnya, semua kembali kepada merasakan. Bukan mengatakan.

***

AKU pun pernah menerima surat cinta darinya.

Setidaknya aku menganggapnya itu surat cinta. Jangan dibayangkan itu sebuah surat cinta yang terangkai penuh kata indah layaknya pujangga. Bukan. Dia tak pandai menulis. Beberapa pilihan katanya bahkan membuatku tertawa geli. Tapi, entah mengapa, aku tahu, ia menulis dengan jujur, dan berusaha keras agar bisa menulis dengan indah.

Surat cintanya tidak ditulis di selembar kertas wangi dengan gambar hati yang merah membara. Tidak pula dipenuhi kata yang romantis. Tapi, entah mengapa, surat cintanya terasa manis dan mampu membuat pipi  menjadi semerah dadu.
Surat cintanya memang tidak biasa.

Ditulis dalam sebuah buku harian cokelat yang tak beraroma, kecuali bau kertas itu sendiri. Buku harian itu pun pembeliannya sendiri.

Surat cintanya menyimpan cerita tentangku. Ia mulai menuliskannya di halaman terakhir buku harian cokelat itu. Begitulah kami berkirim surat cinta; lewat sebuah buku harian cokelat. Aku memulainya dari depan, ia memulainya dari belakang. Kami akan bergantian membawa pulang buku cokelat itu hanya untuk menulis surat cinta yang serupa cerita.

Terus seperti itu. Selang dan berseling. Kau tak akan pernah tahu, bagaimana kami bermain tentang peran tukang pos mengantarkan surat cinta. Bagaimana kami berbagi rasa. Seperti  apa kami membagi rahasia. Kami seumpama dua mata-mata cilik yang setiap hari saling melempar kode. Bertukar sandi. Lalu, buru-buru pulang ke persembunyian masing-masing untuk menemukan jawaban teka-teki. Tentunya dengan dada berdebar dan hati yang seumpama bunga mekar. Tentunya ini berbeda dengan cerita dektektif beneran. Yang membaca kode sandi dengan hati cemas dan pikiran yang dipenuhi rasa ingin tahu, kapan tibanya hari naas.

Aku dan dia berjanji, akan bertemu di halaman tengah untuk memadukan kata di halaman terakhir buku harian cokelat itu. Kami menganggap itu janji yang manis.

Sungguh.

***

APA yang kauharapkan dari sebuah kisah cinta yang pernah diwarnai surat cinta?

Aku pernah sekali menerima surat cinta dalam amplop biru yang wangi. Lidah amplopnya direkatkan dengan isolasi berwarna cantik : baby blue. Biru pucat, aku menyebutnya.

Surat cinta yang aku terima tidak ditulis di atas selembar surat bergambar hati dengan goresan ‘perhaps love’. Amplop itu hanya berisi dua kartu remi, masing-masing bergambar king dan gueen hati, sobekan separuh dari satu halaman paling belakang buku cokelat. Ia pernah merobeknya. Hari itu, ia memutuskan untuk mengembalikannya kepadaku, sehari sebelum semuanya harus selesai, dan mengantarkannya sendiri kepadaku.

Senyumnya tipis, dan tetap manis. ‘Sometimes, king and queen cannot “sit” together in the real world. But, still you have that place in my heart.’ Hari itu, aku menjadi ratu tanpa takhta dan mahkota di hatinya.

That was the last time; we kissed to each other.

Begitulah cerita cinta yang diwarnai surat cintaku berakhir. Tak pernah bertemu di ujung cerita.

Tak apa. Tidak setiap cerita dimaksudkan untuk bahagia bersama. Kita bisa berbahagia sendiri dan bertukar cerita agar yang lain merasakan bahwa hal biasa bisa menjelma luar biasa pada waktunya.

Aku merasa bahagia karena pernah sekali menulis surat cinta. [13]
Jakarta, 25 Juli 2008

untuk apa?

July 23rd, 2008 by periasaksara

Untuk apa Tuhan menciptakan kita di dunia ini?
Jawaban saya sih, simpel, dan mungkin terkesan nggak mau mikir. Tapi
sungguh, ini jawaban yang saya dapat untuk tahun-tahun ketika
pertanyaan itu bermain di benak saya.

: untuk menjadi lebih baik.

Sesederhana itu.
Dan, saya terlongo-longo mendapati kenyataan bahwa ternyata upaya
menuju ke sana tak pernah sesederhana kata ‘baik’ itu sendiri. [13]

Ralat: Bukan Cinta

July 15th, 2008 by periasaksara

Kita hampir bercinta.

Iya. Hampir saja. Siang itu begitu membara. Aku bahkan tidak tahu, apa yang menggerakkan kita. Dengus napas panasmu yang memburu, atau gesekan kulit yang lengket karena keringat. Kaubilang, mungkin karena bibirmu rindu disentuh bibirku.

Hahaha.

Masa iya? Bukankah semuanya sudah jelas buat kita. Cerita kita sudah usai. Selesai pada waktu yang kita pilih: dua tahun yang lalu. Lantas, kenapa juga masih mendamba?

Kau tak menjawab. Tentu saja. Sebab kau bahkan tak mendengar apa yang sedang aku bicarakan. Matamu terpejam. Bibirmu menjelajah leherku. Pelukanmu semakin erat. Entah kenapa, aku justru merasa semakin ciut.

I. love. You.

Kaubilang itu di ujung ciuman panjangmu. Setelah gigitan basahmu di telingaku. Kau bahkan tak menyisakan ruang bagi udara di antara tubuh kita yang kian merapat.

Shit!

Apakah kaudengar umpatanku? Maaf, aku bukan kekasih yang romantis. Bukan pula perempuan yang manis. Harusnya, aku menjawab itu dengan kenes, ‘I love you, too’. Tapi, ini sebaliknya. Aku mengumpat pedas.

Aku tak ingin minta maaf sebab telah menjawab cinta dengan tai. Tidak. Ini bukan masalah ego atau gengsi yang selalu kita ributkan di tahun-tahun lalu. Mana berani aku bilang cinta, sementara sebagian dari hati kecilku sendiri ragu, bahwa ini hanya semacam… ya, semacam cinta, mungkin? Sorry, aku bingung mencari padanan katanya. Nantilah, kubuka kamus. Mungkin ada di dalam kamus serapan, tentang sesuatu semacam cinta.

Sayang, kalau kaubaca ini, aku hanya ingin mengajakmu lebih realistis. Cinta tak melulu terasa manis. Ia bisa miris. Kata cintamu membuat aku semakin mempertanyakan cinta. Percintaan dan persetubuhan pastinya beda, bukan? Apakah kau yakin, persenggamaan ini ada sebuah percintaan atau tak lebih dari persetubuhan? Sekadar tubuh yang bergesek dan saling memuaskan, atau cinta yang memberi dan saling meluaskan?

Bukannya aku menganggap kau seorang pembohong. Untuk sebuah kata cinta di sela-sela ‘pergumulan’ panas kita, di antara deru napas yang memburu karena nafsu, kau terdengar naïf karena percaya dan mengucapkan semua itu sebagai cinta. Setidaknya, bagiku.

Mari bicara jujur. Aku pikir, apa yang kaurasakan bukan cinta. Aduh, aku bayangkan, kalau kuucapkan ini di depanmu tadi siang, keningmu pasti langsung berkerut. ‘Susah banget sih mau mesra-mesraan ama elo!’ begitu sungutmu. Dan pelukanmu pasti mengendur. Lalu, aku akan memainkan cuping hidungmu dengan jari telunjukku. Mencoba merayumu, agar mau mendengar apa yang aku bicarakan. Kautahu, aku selalu merindukan ‘percintaan’ yang panas dengan percakapan yang intens. Tapi, siapa pula lelaki yang mau melayani pertanyaan-pertanyaanku di sela gemuruh berahinya?

Dan kau akan bilang, ‘Bisa nggak sih lo berhenti mikir pas lagi “beginian”?’

Lelakiku, tahukah kau, aku selalu tersenyum bila mendengar umpatan di sela ciumanmu? Kau terganggu. Tapi, kau juga mencandunya, kan? Akui saja!

Oke. Siang tadi, aku tak ingin  menjelma menjadi mantan kekasih yang tak mesra. Setelah sekian lama tak bersua, rasanya tak lucu juga kalau aku merusak ‘interaksi’—hihihi, aku hanya sedang bermain dengan diksi—kita siang tadi dengan pikiran-pikiran yang melintas di otakku.

Jadi kuputuskan;
untuk diam hingga bibirmu berhenti mencumbu dan tubuhmu tak lagi memelukku.

Sayang, aku tidak sedang menertawaimu. Aku hanya ingin tahu, apa yang kaupikirkan seandainya kubilang ini tidak lebih dari naluri binatang? Keinginan kita untuk keluar dari rutinitas. Mencicipi dosa yang membuat kita terlihat seperti dua orang pembangkang yang berusaha mengibuli dunia. Dua orang pendosa yang merayakan rahasia kecil di antara mereka dan bahagia karena berhasil menyimpannya.

Huh. Jangan khawatir. Aku tak akan tersinggung seandainya ini memang benar bukan cinta. Aku bahkan nyaris yakin, ini bukan cinta. Ini berahi, ini naluri liar kita.

Cinta tak pernah salah. Hanya saja, ia terkadang datang terlambat, atau sialnya lagi, salah alamat. Ketika itu terjadi, ia menjelma menjadi nafsu yang kemudian kita labelkan cinta. Manusia itu makhluk penuh intrik. Zoon politicon, kata Aristoteles. Agar tak terlihat murahan, kita menganggap persenggamaan ini sebagai persekutuan suci dengan mengatasnamakan cinta. Kau-aku hanya ingin terlihat sebagai manusia yang punya cinta, dan tidak diperbudak nafsu. Dengan demikian, kau dan aku menjadi benar dan bermartabat, serta tentu saja, tidak bejat.

Lelakiku, kalau kaubaca ini, aku tak tahu apakah kau akan tersinggung. Kalau setelah ini, kauputuskan untuk tak lagi menemuiku, buatku, itu tak apa. Tapi sungguh, aku hanya ingin jujur.

Inilah yang membuatku berhenti menciummu, tadi siang.

Lelakiku,
kita hampir bercinta.
Oops. Ralat.
Kita hampir bersetubuh. Siang tadi. [13]

Jakarta, Satu hari di bulan Juli, 2008

Merayakan Kematian

June 26th, 2008 by periasaksara

Seharusnya kita merayakan kematian.
Begitulah saya kerap berpikir. Betapa kematian harusnya dihadapi dengan sebuah perayaan yang hingar-bingar—tak berarti pesta yang meriah, orang bisa merasakan gempita dalam kesendiriannya, kok. Penuh senyum. Dan tentunya, dengan segenap rasa bahagia.

Bahagia saja.
Bukan ikhlas. Bukan sabar. Sebagai mana nasihat bijak yang diberikan orang kepada mereka yang ditinggal pergi.

Namun, kenyataannya, saya justru sering mendapati hal sebaliknya. Menyaksikan orang yang menghadapi kematian dengan air mata dan wajah muram. Ketika kabar itu disampaikan kepada mereka, bibirnya melongo terperangah sembari berkata, ‘Ya, ampun’,  ‘Aduh, nggak nyangka ya?’, ‘Lho, kenapa?’, ‘Masak sih?’. Atau, lebih memprihatinkan lagi, menangis meraung-raung, jatuh pingsan, bahkan terpukul yang amat sangat hingga ia tak bisa move on.

Saya tahu, kehilangan itu hal yang tak menyenangkan. Bahkan, untuk sebagian orang terasa mengerikan ketika menyadari orang itu sudah tidak bersama kita lagi.

Saya maklum dengan semua itu. Namun, daripada menghadapi kematian atau kehilangan itu sendiri, saya justru lebih gentar menghadapi reaksi orang atas kematian dan kehilangan. Ada banyak alasan yang membuat saya ketakutan menghadapi reaksi orang-orang yang kehilangan atau ditinggalkan.

Saya mencintai kehilangan dan kematian seperti saya mengagumi kekuatan atas rasa memiliki dan kehidupan. Saya tak mungkin hanya mencintai salah satunya. Saya khawatir, ketika saya hanya menyukai hidup saja atau terlalu larut dalam kehilangan, maka saya akan menjelma menjadi sosok yang lebih egois dan tidak stabil.

Ketika menerima berita tentang kematian, sesungguhnya, jauh di lubuk hati, saya menyelamati mereka. Bersuka cita atas kemerdekaan mereka dari tubuh. Atas aturan bull shit di dunia ini. Saya selalu berpikir, tak ada hal yang perlu disedihkan atau disesali untuk sebuah kematian. Apalagi ditangisi. Namun, reaksi itu tentunya akan disikapi dengan tak wajar oleh orang sekeliling saya.

Dan, jadilah saya orang yang kikuk menghadapi kematian di dunia nyata.
Kikuk karena saya jadi bingung bagaimana harus bersikap. Bagaimana harus bereaksi menghadapi kematian agar di kacamata orang lain, saya dianggap cukup punya hati.

Saya tak tahu, bagaimana cara yang paling baik menghadapi orang-orang yang ditinggal pergi selain diam. Buat saya, mereka tak butuh dihibur. Mereka hanya butuh didengarkan. Butuh merasa sedih. Butuh merasa kehilangan untuk meyakinkan diri bahwa ada sebagian dari orang itu pernah memiliki ‘emotional attach’ dengannya. Mereka hanya butuh alasan agar tidak merasa menyesal menjalani sisa waktu tanpa orang itu.

Saya pernah berada di dalam situasi di mana saya seharusnya menangis, meraung, memaki, mempertanyakan kematian. Kalau saya melakukan hal seperti itu, saya akan dianggap manusiawi. Namun, yang terjadi, saya justru diam, tak bersuara, tak menangis, dan tak seperti orang kehilangan. Dan demikianlah tudingan itu dihunjamkan kepada saya, diucapkan oleh orang yang seharusnya sangat mengenal karakter saya. ‘Kamu memang tak pernah menyayangi dia. Tak merasa kehilangan.’

Detik itu saya tahu inilah hari kematian jiwa saya. Serasa ada bolong lebar di hati. Sebuah kehilangan yang besar: kepercayaan bahwa saya bisa merasakan. Meskipun beda cara.

Hari itu juga saya belajar.
Kematian membuat orang yang ditinggalkan kehilangan hati. Kematian membuat yang ditinggal menjadi labil. Oversensitive. Dilegalkan untuk bersikap, bertindak, dan berkata apa pun. Dan saya harus menyiapkan sejuta alasan untuk memaafkan sesakit apa pun tudingan itu. Harap maklum. Ia baru saja kehilangan.
That’s it. Don’t argue.

Begitulah.
Saya juga kelelahan menghadapi reaksi dan pertanyaan orang tentang kematian.
Reaksi mereka seperti adegan template di mata saya: pandangan iba, kasihan, dan prihatin. Saya membenci itu. Rasa itu lalu akan disuarakan melalui bisikan, ‘yang tabah ya…’, ‘ikhlas’, dan masih banyak bisikan kata lainnya yang serupa kendati dengan redaksional beda. Maaf, saya muak menghadapinya.

Lalu, setelah itu, akan ada pertanyaan copy-paste: ‘bagaimana kejadiannya?’ Dengan tangan mengelus pundak, tatapan mata menunjukkan kepedulian, si penanya akan menanti dengan sabar cerita dari mulut orang yang kehilangan.  Dan begitulah, dengan suara terbata-bata, orang yang ditinggal akan kembali menceritakan semua kejadian. Ia mengingat, terkenang, dan perlahan air matanya kembali berlinang. Mereka kemudian berpelukan. Saling menguatkan.

Sigh…
Saya sungguh kecut menyaksikan hal itu.
Rikuh dengan reaksi seperti itu. Kenapa mereka tak diam saja. Usah bertanya, karena sesungguhnya, untuk menceritakan ulang, itu sangat melelahkan.

Saya pernah menjawab dengan tertawa ketika seseorang bertanya pada saya bagaimana kejadiannya sehingga seseorang itu mati. ‘Seharusnya, saya merekam semua cerita itu. Lalu, ketika ada yang bertanya, saya tinggal menyalakan tape.’ Itu jawaban saya. Dan yang bertanya menyambut jawaban saya dengan senyum dipaksakan.

‘Dia mungkin satu-satunya orang yang tak bersedih.’
‘Dia kan memang yang mulutnya paling judes.’
Demikian hal itu kembali saya dengar. Saya kenyang dengan komentar itu. Dan, saya memilih tetap tak bereaksi.

Sampai hari ini, saya enggan bertanya kenapa seseorang mati ketika berhadapan dengan keluarga yang ditinggalkan. Saya terbiasa menghadiri pemakaman atau ritual melayat dengan muka lempeng. Tak ingin bertanya ‘kenapa?’ atau ‘bagaimana?’. Kalau pulang dari ngelayat, orang seringkali bertanya pada saya sebab musabab kematian orang yang meninggal. Saya sadar kalau saya sering menjawab, ‘tidak tahu’.

Dan orang akan kembali berkata, ‘Ya, dia kan mana peduli dengan hal seperti itu’, ‘Ya, dia kan nggak sensitif’, atau ‘Buat dia itu kan nggak penting’. Saya harus kembali menelan semua itu. Bahkan, untuk menjelaskan kepada mereka mengapa saya tak bertanya tentang hal itu pun terasa melelahkan buat saya. Dan memang, tak ada pentingnya. Saya memilih diam dan mengabaikannya.

Padahal, alasan saya sepele saja. Saya tak bertanya karena persoalan kematian memang bukan untuk dipertanyakan. Itu pertama. Yang kedua, akan sangat membantu bagi mereka yang ditinggalkan kalau kita tidak terlalu banyak bertanya tentang penyebab kematian itu. Percayalah, menjawab pertanyaan itu dalam kondisi kehilangan bukan perkara mudah. Jadi, mari kita ringkankan dengan tak banyak bertanya. Begitu menurut hemat saya.

Buat saya, memasang telinga, mendengarkan tanpa banyak bertanya dan komentar adalah cara saya berempati pada sebuah rasa kehilangan yang semu. Ya, semu karena bagi saya orang-orang yang pergi itu tetap hidup. Hidup dalam kenangan. Apalagi yang lebih abadi selain orang yang akan terus bercokol dalam pikiran kita selama hidup?

Saya merayakan kematian. Menikmati kehilangan.
Karena kematian mempertemukan saya pada nilai hidup. Kehilangan memperkenalkan saya kepada rasa rindu. Sebuah rasa yang membuat saya bisa lebih menghargai kenangan tentang orang-orang yang pernah hidup atau saya (sempat) miliki.

Hari ini, saya tengah merayakan kematian seseorang dengan cara saya.
Duduk sendirian di pojok sebuah kafe, menulis tentang kematian sambil menyesap satu teko Rooibos Lemon Grass Tea. Saya biarkan diri saya larut dalam pekatnya kenangan tentang dia.

Sementara,
di bagian lain Jakarta,
mereka yang berbaju hitam tengah bersiap menuju pemakaman.(13)

Jakarta, 24 Juni 2008.
In memoriam, for my beloved uncle that I called ‘Babeh’.

Kekasih Hujan

February 1st, 2008 by periasaksara

Perempuan itu masih menunggu.
Di sana.
Di pinggir jendela dengan kacanya yang megah dan polos.
Duduk seorang diri menatap ke luar.
Menanti entah apa. Melihat entah ke mana.

Ia bergeming.
Siang ini memang dingin. Hangat matahari sedari pagi enggan menyapa Jakarta di bulan Januari. Ia rapikan syal merah yang membalut lehernya. Begitu kontras dengan pakaian hitam yang dikenakannya. Mukanya polos tak berpoles. Ia sendiri. Tapi aku tak yakin apakah ia kesepian. Sebab, ada senyum tipis di ujung bibirnya yang merah jambu. Mungkin, ia terkenang pada sesuatu.

Kenangan yang membuat pipinya menjadi semerah dadu.

Perlahan, disesapnya cangkir teh yang ada di hadapannya. Sesekali bibirnya meniup-niup minuman yang mengepulkan asap.

Pernah, ia menoleh. Membuang pandangannya dari jendela. Aku mengartikannya itu seperti upaya ia untuk keluar dari dunia miliknya sendiri sejenak. Dan sejenak itu yang aku simpan di dalam memori otakku. Mata cokelatnya yang pias bertemu mataku. Aku membeku.

Matanya bicara banyak. Namun, ia enggan membaginya dengan orang lain, termasuk aku. Dibatasinya aku dengan sebaris senyum. Tipis. Setipis tadi. Sayang, tak semanis tadi.

Mungkin ini bisa disebut astral. Aku seolah dilempar ke tepi pintu dunianya. Meraba-raba, apa yang tengah ia pikirkan. Menebak adakah yang ia tunggu.
Seorang lelaki?
Sahabat?
Rekanan bisnis, mungkin.
Atau, sekadar menghabiskan waktu untuk bertemu kenangannya.
Namun, daun pintunya tak terkuak. Aku tetap sibuk menebak-nebak.
***

Suara petir menggelegar. Langit kelabu di luar sana memuntahkan hujan. Ia kembali memandang ke jendela. Meninggalkan aku yang kehausan akan dirinya. Tak beringsut dari tepi jendela. Omongan orang tua, ‘Jangan berdiri di dekat jendela kalau hujan, nanti disambar geledek’ tak diacuhkannya. Bahkan, ujung jarinya kini menempel di kaca. Ikut  menyusuri bulir air yang jatuh. Lambat bergerak. Seperti bom waktu yang menunggu meledak. Sebelum menghentak ke tanah dan melesak dengan membawa seribu kisah.

Aku tercenung.
Perempuan itu seolah tengah bercakap dengan hujan.
Berbagi cerita yang membuat bibirnya terus menyinggungkan senyuman tipis nan manis.
Aku mati penasaran. Aku cemburu pada hujan. Mereka tampak begitu mesra. Tak berjarak. Tak ada tempat untukku. Padahal, aku begitu memujanya. Mencintai setiap jengkal dirinya, sekecil apa pun.

Apa yang ia bisikan kepada hujan?
Sepertinya, ia berkisah tentang banyak hal. Terlihat begitu akrab. Sementara aku, tetap di sini. Mendambanya tak tentu arah. Aku seperti pesakitan. Mengamati setiap geraknya. Di setiap hari ketika hujan turun. Duduk di bangku yang sama. Memandang hal yang sama. Namun, tak juga bisa menebak apa. Bahkan, tak juga sepenggal kata, ‘hallo’ untuk menyapa.

Mungkin, besok, bisa aku mulai dengan ‘selamat pagi’. Atau, ‘hai ketemu lagi’. Setiap hari, menjelang pulang selalu kuniatkan itu. Tapi, sampai hari ini, tak sepatah kata pun keluar dari bibirku, ketika esoknya aku melihatnya lagi. Aku memilih menatapnya saja. Mengajaknya bicara dalam diam.

Ia pemandangan yang indah buatku hari ini.
Sama seperti kemarin.
Kemarin.
Dan kemarinnya lagi.
Ketika hujan turun: Ia selalu ada di situ.
Dan aku selalu di sini. Menjadi pemuja gelap Sang Kekasih Hujan.

Warna Jingga Pagi Itu

February 1st, 2008 by periasaksara

Katakanlah aku seorang pembohong.
Membawa jingga dalam cerita di sebuah pagi. Atau, kau boleh juga menyebutku seorang pengkhayal ulung, yang suka melamun di pinggir sungai untuk menceritakan sepotong jingga cantik di pagi hari.

Pagi itu tak lebih istimewa dari kecupan bibir pengantar tidur pacarku di malam hari. Aku sang pecinta malam. Bagiku menit-menit merangkak gelap terasa sangat mendebarkan. Menyenangkan. Ada gairah yang melegak. Seolah kebebasan ada di depan mata ketika langit berangsur kelabu, lalu menjadi terlihat tanpa dasar: gelap. Dan bibir pacarku akan mendarat di bibirku. Berbagi ludah. Mengecap lidah. Aku kecanduan pada rasa bibirnya yang basah.

Begitu menyenangkan.

Setelah itu, tak ada beda. Pagi pun menjemput kabut. Perlahan embun menguap, seolah tak pernah tergenggam bumi. Aku memutuskan berlari memasuki hutan. Rutinitas berkencan dengan pagi atas nama pembakaran kalori.

Semuanya terasa biasa-biasa saja hingga aku tiba di bibir sebuah terowongan usang. Tersentuh namun tak terpakai. Mungkin, ia punya jejak sejarahnya sendiri. lorong yang membawa ke negeri antah berantah entah di sebelah mana. Tempat para suku Indian bersembunyi dari kejaran pelor panas sang musuh, mungkin? Sekali lagi, mungkin.

Atau, terowongan ini yang membawa mereka pada tanah kebebasan. Menjemput kemerdekaan untuk tanah leluhur. Sebuah negeri makmur impian mereka, sebelum kemudian warna kulit menjadi masalah. Dan ras menjadi persoalan pelik dalam sejarah peradaban manusia. Maksudku: seolah-olah pelik.

Hutan seolah punya cerita sendiri tentang ia: sang terowongan. Dan gelap ada di sana. Tak ada yang perlu ditakutkan. Mari kita melebur! Dan aku melangkah, berharap sebuah cerita akan bermain di otak pengkhayal milikku.

Seperti sungai, aku menyusuri tepiannya. Membiarkan indera peraba di bagian telapak tangan meniti dindingnya. Lembap dan berlumut. Bau basah menguar. Suara burung di atas sama berkoar. Aku dalam diam berkelakar.

Berkelakar dengan ketidakpastian. Ah, aku bisa berbalik pulang. Tak usah cemas. Gelap tak akan melenyapkanmu.

Namun, cahaya di ujung lorong, yang berpendar, menarikku mendekat. Jangan pulang. Terus, aku di sini menantimu! Suara itu seolah berbisik di gendang telinga. Begitu dekat. Begitu akrab.

Aku tak akan melukaimu. Tak seujung rambut pun.

Dan di sanalah ia menantiku.
Dalam warna jingganya yang selembut beludru. Kelabu yang mengabur menjadi cahaya berpendar. Begitu indah. Betapa cantik.

Megah. Menakjubkan. Sekaligus sederhana. Bahasa cahaya yang tanpa suara.
Betapa aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan berkali-kali jatuh cinta di setiap kedipan kelopak mataku.

Duduk sini dekat aku.
Ia hanya serupa cahaya, tak berwujud namun bisa tertangkap indera penglihatanmu.
Aku merindukanmu. Tak berbatas. Tak bertepi.
Aku meringkuk di dekatnya. Rasa hangat menjalar seketika.
Aku mencarimu.
Kau menemukan aku.
Waktu akan selalu mengantarkanmu padaku.
Apa ini?
Tak usah repot memikirkan apa ini-itu.
Jingga bergerak. Aku serasa hidup dalam cahaya.
Kau nyaman?
Aku mengangguk.
Aku selalu membuatmu nyaman.
Kenapa?
Karena akulah tempatmu pulang.
Kenapa baru sekarang bertemu?
Aku selalu ada di dekatmu.
Di  mana?
Di balik kegelapan yang tak berdasar itu.
Aku mencintai gelap.
Pasti. Karena aku ada di situ.

Dan perlahan, warna kuning keemasan berlapis jingga terbentang di hadapanku. Jingga itu tetap di sana. Dalam jangkauan mataku. Kilau permukaan air sungai membuatku terpukau. Betapa waktu terasa sangat abadi saat ini. Ia berdiam diri. Kamu salah kalau berpikir semua seolah berhenti. Sungai tetap mengalir, entah ke mana. Tupai-tupai tetap berloncatan, burung tetap bercicit, dan daunan yang menguning perlahan jatuh  menyentuh tanah. Beberapa menimpa permukaan sungai, terserat arus, menuju entah pada apa. Mungkin pada sesuatu yang tak tersentuh oleh keindahan apa pun di muka bumi ini.

Bisakah aku selamanya di sini?
Tidak. Kau harus kembali pada sesuatu di dalam terang.
Aku suka di sini.
Aku senang kau pun di sini.
Tak bertemu mungkin lebih baik.
Kau takut perpisahan?
Entah. Kamu?
Hm… saat mengerikan ketika harus membiarkanmu pergi.
Sungguh?
Aku membencinya. Tapi selalu menanti pertemuan dengan dada berdebar.
Kamu berdebar?
Selalu berdebar ketika kamu semakin mendekat.
Aku merasa lengkap.
Jingga berpendar. Aku mengartikan itu senyum. Kadang gelap tak selamanya pekat. Kamu pun menemukan terang di sini.
Aku menemukanmu.
Kita saling menemukan.

Sesuatu menggigit ujung jari kakiku. Aku bergeming. Pandanganku seketika gelap. Seperti terseret masuk ke dalam pusara yang dingin dan gelap. Tak perlu takut. Gelap tak akan melenyapkanmu!

Perlahan, kelopak mataku terbuka. Mengerejap karena ribuan cahaya menyerbu retinaku. Biru warna langit membentang. Silau. Di mana jingga?

Ia berubah jadi tupai!
Seekor tupai menggigiti ujung kakiku yang melonjor. Menyisakan rasa geli. Pening menyerang kepalaku. Jiwaku menemukan raga yang bersandar di batu besar dan terkulai di pinggir sungai.

Bibir terowongan itu masih di sana.  Bisu tanpa cerita. Dan sekejap, rasa kehilangan itu kembali menyerang.

: Aku sendirian.

Aku menginginkan jingga itu abadi. Bergelung dalam rindu yang tak berkesudahan. Tapi sudahlah. Sebaiknya aku pulang, dan kembali menanti malam. Hingga bibir pacarku menjemput.

Simpan rindu itu baik-baik. Entah kapan, akan ada lagi cerita tentang sepotong jingga di pagi hari. Atau… di sore hari.

Apakah kau masih menganggapku seorang pembohong?
Katakanlah begitu kalau itu bisa membuatmu mendengarkan cerita ini. [tiga belas]

Jakarta, 30 Januari 2008

Bengkel Penulisan GagasMedia@Malang-Surabaya

November 26th, 2007 by periasaksara

Belajar Nulis Bareng, Ker!!!!

Dear all!

Bingung bikin plot?
Pengen tahu caranya nulis tandem?
Gimana sih bikin novel komedi?
Nyiptain karakter seru di novel?
How to publish my book?

Well, buat kalian yang ada di Malang-Surabaya, GagasMedia bakal ngadain acara-acara seru di dua kota ini. Jangan sampai ketinggalan ya…

Please, just check it out! Kalian bisa diskusi seru sama redaksi dan penulis dari GagasMedia.

Gabung, yuuuukkkkkk!!!!

Malang
Kamis, 29 November 2007
Pukul 10.00 wib di gedung baru FIA lt. 3-Unibraw
Ngobrol bareng tentang novel SHIT HAPPENS bareng Christian Simamora dan Windy Ariestanty. Akan hadir sebagai pembedah Raditya Dika (penulis Kambingjantan, Cinta Brontosaurus, dan Radikus Makankakus)

Pukul 19.00-drop di Gramedia Malang Town Square
Talkshow Radikus Makankakus bareng Raditya Dika

Jumat, 30 November 2007
09.00-10.00 : talkshow Shit Happens dan teknik penulisan di radio Mas FM malang, pembicara : Christian Simamora dan Windy Ariestanty

10.00-11.00 : talkshow Shit Happens dan teknik penulisan di radio MFM malang, pembicara : Christian Simamora dan Windy Ariestanty

13.30-14.30 : Bengkel Penulisan di perpustakaan kota Malang bareng penulis GagasMedia Christian Simamora, Raditya Dika, Windy Ariestanty

19.00-…..    : Hangout dan ngobrol tentang menulis di Gramedia Fair, Plaza Araya-Malang bareng penulis GagasMedia: Christian Simamora, Raditya Dika, Windy Ariestanty

Surabaya
Sabtu, 1 Desember 2007 :
08.00-15.00 : Workshop penulisan komedi*) bersama Raditya Dika dan GagasMedia, di Ruang 306/Auditorium Fakultas Sastra, Universitas Airlangga, pembicara Raditya Dika, Windy Ariestanty, Christian Simamora

15.30-17.00 : Talkshow Shit Happens bareng Christian Simamora dan Windy Ariestanty di Surabaya Book Festival-Balai Pemuda, Surabaya.

19.30-21.00 Bengkel Penulisan bareng Raditya Dika, Windy Ariestanty, Christian Simamora di Gramedia Tunjungan Plaza Surabaya

Minggu, 2 Desember 2007
13.00-14.30 : talkshow Radikus Makankakus bareng Raditya Dika di Surabaya Book Festival-Balai Pemuda, Surabaya.

15.30-17.00 : Ngobrol bareng tentang how to write, how to publish your book, dan bedah naskah bersama GagasMedia di Surabaya Book Festival-Balai Pemuda, Surabaya.

Untuk informasi workshop penulisan, hubungi Nunung di 031-71921911 atau ke Buka Buku Surabaya, jl. Tenggilis blok O no. 24 Kendangsari, Surabaya

The Best Local Book

November 19th, 2007 by periasaksara

Well, guys. i want to share this happy news, at least for me and christian. both of us are very happy since, today, we get a news that SHIT HAPPENS masuk nominasi The Best Local Book versi majalah FreeMagz!

What a news. Nominator lainnya ada OUCH!!! by Melanie Subono, juga diterbitin GagasMedia, terus ada Gokil by…Miund (maaf kalo salah tulis).

I want say thank you buat semua yang udah baca dan kasih komen buat Shit Happens.

senang! Jadi bersemangat nyelesaiin buku-buku yang lainnya nieyyyy.

Thanks. Mille grazie!

Senang!

November 19th, 2007 by periasaksara

Senang!

Yipppeeeyyy!!! Hari ini gue memulai sesuatu dengan perasaan senang. Well, stelah semua kemalangan yang terjadi…you knowww naskah buku ketiga gue hilang karena laptop diformat. Hikssss…

But, kemarin, akhirnya gue berhasil menyelesaikan naskah buku ketiga tersebut. Dengan suka cita, hari Senin ini, gue nyamperin meja christian. Setor naskah supaya diedit karena jadwal terbitnya Desember.

Di otak gue udah ada sebuah rencana. Dasar gue karyawan nggak tahu diri,ya… Gue mo nyamperin direktur Gagas buat nagih kontrak gue yang menurut dia belum dia tanda tangani karena tuh naskah hilang. Tapiiiii, berhubung gue ada interviu editor baru buat Gagas, terus pukul sebelas ada meeting di PS, jadilah gue lupa buat nagih tuh kontrak.

Sampai akhirnya sore menjelang. Gue balik lagi ke kantor. Terus ngintip-intip meja direktur gue… kosong, bo! Sial. karena meja direktur kosong, gue main aja ke meja sekretarisnya, si mba momo yang juga jadi partner nulis gue untuk buku ketiga. Ternyata… kontrak buku ketiga gue udah ada di dia dan…udah di tandatangani ama direktu gue!!! Duh! Senangnya!!! Jadi, kemarin-kemarin, dia ternyata cuma mo ngerjain gue aja bilang kalo tuh kontrak nggak bakal ditandatangani kalo naskah belum gue setor ke redaksi. hehehehe. i think, i have a unordinary boss, ya…

dan senangnya lagiii, selain naskah kelar, kontrak udah ditandatangani, gue dapat kabar…kalo novel terbaru gue bareng Chris dinominasikan sebagai The best local book oleh sebuah majalah. huaaaaaaa maki girang dong gue!!

Hup hup hup…loncat loncat pastinya. sambil pelukan haru ama christian.

well, after all shitty things, akhirnya ada juga yang bikin senyum. o,ya…gue juga udah bisa keliling buat promo shit happens. soalnya, rapat akhir tahun dah kelar. untuk tahap awal, 29-30 November, gue ama chris bakal ada di Malang. Terus 1-2 Desember, gue bakal ada di Surabaya.

Kalo ada waktu, please come! gue bakal bikin workshop nulis bareng Radhit dan Chris. terbuka untuk umum, kok!

okeeeee itu dulu tentang senang hari ini.